MERAWAT MANUSKRIP SEBAGAI WARISAN SEJARAH DAN BUDAYA, PEMKAB OGAN ILIR BANGUN PUBLIC AWARENESS UNTUK IDENTIFIKASI NASKAH KUNO

Ogan Ilir, Iniklik .com – Naskah kuno bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan berharga yang menyimpan jejak sejarah, pengetahuan, dan identitas budaya bangsa. Menyadari pentingnya menjaga warisan tersebut, Pemkab Ogan Ilir melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ogan Ilir menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi, Identifikasi, dan Edukasi Pelestarian Naskah Kuno Tahun 2026 di Gedung Serbaguna Perpustakaan Daerah Kabupaten Ogan Ilir, Selasa (13/10/2026).

Kegiatan ini dibuka oleh Bupati Ogan Ilir yang diwakilkan langsung kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ogan Ilir, Dr. Hj. Siska Susanti, M.Kes. Sosialisasi ini diikuti oleh 64 peserta terdiri dari pemilik naskah kuno, akademisi, pegiat literasi, pustakawan/pengelola perpustakaan, media, dan unsur pemangku kepentingan terkait di Kabupaten Ogan Ilir.

Dalam kegiatan ini, tiga narasumber dihadirkan untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya pelestarian naskah kuno dari berbagai perspektif. Drs. H. Iklim Cahya, M.M., merupakan Tenaga Ahli Bidang Kebijakan Komunikasi Media Kabupaten Ogan Ilir, menyampaikan bagaimana peran pemerintah, pemangku kepentingan dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian naskah kuno.

Selanjutnya, Samsudin, S.S., Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, menjelaskan mengenai identifikasi, pendataan, tata kelola, ragam teks, dan pelaporan naskah kuno sebagai bagian penting dalam upaya pelestarian yang terarah dan berkelanjutan. Kemudian, Dr. Hj. Nyimas Umi Kalsum, S.Ag., M.Hum., seorang peneliti dan Dosen Filologi UIN Raden Fatah Palembang, Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Komisariat Sumatera Selatan, sekaligus Founder Yayasan Pusako Sumatera Selatan, membahas filologi dan kajian naskah kuno sebagai warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, pengetahuan, dan kearifan lokal serta pengenalan aksara ulu dan aksafra jawi kepada peserta sosialisasi.

Melalui pemaparan materi dan diskusi, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mengenali keberadaan naskah kuno, menggali informasi dari masyarakat, serta melakukan identifikasi dan pendataan sebagai langkah awal pelestarian. Keterlibatan pemilik naskah, pemerintah kecamatan dan desa/kelurahan, akademisi, serta pegiat literasi menjadi bagian penting dalam mendukung upaya tersebut.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ogan Ilir, melalui Kabid Perpustakaan, Rully Mulyani, S.Sos menyampaikan dalam laporannya bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya naskah kuno sebagai warisan budaya dan sumber pengetahuan. Selain itu, juga untuk memberikan pemahaman tentang identifikasi, pendaftaran, dan digitalisasi naskah kuno sebagai upaya pemerintah dalam perlindungan dan pelestarian, serta mendorong partisipasi dan sinergi berbagai pihak untuk pemanfaatan naskah kuno agar lebih optimal. “Ya, alhamdulillah sejauh ini ada 3 buah naskah kuno di Kabupaten Ogan Ilir yang kami temui, dan sudah terkonfirmasi oleh ahli filologi bahwa ini tergolong naskah kuno, yang mana media penulisannya pada kulit kayu (khagas) dan logam berupa pedang/ badik.” ungkap Rully.

Dengan begitu, kemungkinan masih banyak lagi adanya naskah kuno yang masih tersimpan di tengah masyarakat yang nantinya akan dilakukan identifikasi, dan digitalisasi sampai nanti pada tahap akhir yaitu pendaftaran naskah kuno ke Perpusnas RI untuk pelestarian warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Kegiatan sosialisasi ini juga diisi dengan pengenalan aksara jawi dan aksara ulu khas Sumatera Selatan kepada peserta yang mana aksara tersebut digunakan oleh pendahulu sebagai media rekam tulis ide-ide, hasil cipta, rasa, dan karsa mereka dalam kehidupan bermasyarakat dahulu. “Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir mengajak masyarakat untuk bisa bersama-sama merawat jejak sejarah, menjaga warisan leluhur, dan mewariskan kekayaan budaya melalui naskah kuno kepada generasi mendatang.” imbuh dr.Siska (Red)




