PalembangSerbaSerbiSumsel

Haji yang Mabrur, Meski Tak Sampai ke Makkah

Tidak inginkah kita dipilih oleh menjadi “Abdullh bin Mubarok” berikutnya di era kekinian?

Oleh : Faiz Nur Fahmi Alumni Pondok Pesantren Rubath Al-Muhibbien Palembang

Ada sebuah kisah yang diriwayatkan dalam kitab Usyfuriyah dan disebut pula dalam pembahasan syarah hadis tentang rukun Islam (Arkanul Islam). Riwayat ini berkisah tentang seorang ulama saleh bernama Abdullah bin al-Mubarak. Ia seorang yang dikenal luas karena kesalehan, ilmu, kezuhudan dan keluasan hartanya.

Pada suatu hari, Abdullah bin al-Mubarak bersiap menunaikan ibadah haji. Ia telah mengumpulkan bekal dan membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk perjalanan panjang menuju Baitullah. Bersama rombongan, ia berjalan meninggalkan tempat tinggalnya dengan hati yang penuh kerinduan kepada Ka’bah.

Namun, perjalanan itu ternyata tidak membawanya segera sampai ke Makkah.

Di tengah perjalanan, pandangannya tertuju kepada seorang perempuan miskin yang sedang mengais sesuatu dari tempat pembuangan. Abdullah mendekatinya dan bertanya dengan lembut,

“Wahai perempuan, apa yang sedang engkau lakukan?”

Perempuan itu menjawab bahwa ia sedang mencari makanan untuk keluarganya.

Abdullah kemudian melihat bahwa yang diambil perempuan itu adalah bangkai.

“Bukankah itu sesuatu yang haram untuk dimakan?” tanya Abdullah.

Perempuan itu menjawab dengan kalimat yang sederhana, tetapi mengguncang hati:

“Memang haram bagi kalian. Tetapi bagi kami, ini halal.”

Bukan karena perempuan itu tidak mengenal hukum agama. Ia sedang berada dalam keadaan yang sangat sulit. Kemiskinan telah membawanya ke tempat di mana manusia lain mungkin enggan menoleh.

Abdullah terdiam.

Barangkali saat itu ia menyadari bahwa perjalanan menuju Baitullah tidak hanya membutuhkan kaki yang kuat dan bekal yang cukup. Ia juga membutuhkan hati yang mampu melihat penderitaan sesama.

Ia pun kembali ke rumah.

Uang yang semula disiapkan untuk perjalanan haji kemudian diberikan kepada perempuan miskin tersebut.

Rombongan haji berangkat menuju Makkah. Abdullah tidak ikut.

Beberapa waktu kemudian, rombongan itu tiba di Makkah dan melaksanakan thawaf serta rangkaian ibadah haji. Namun, di antara mereka muncul sebuah keheranan. Mereka melihat Abdullah bin al-Mubarak berada di sekitar Ka’bah, seolah-olah ia ikut bersama mereka.

Setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, rombongan pulang ke kampung halaman.

Sesampainya di tempat asal, mereka kembali terkejut.

Abdullah bin al-Mubarak justru telah berada di rumahnya dan menyambut kepulangan mereka.

Pemimpin rombongan bertanya dengan penuh keheranan,

“Wahai Abdullah, bukankah engkau berangkat bersama kami?”

Abdullah menjawab bahwa ia tidak pergi ke Makkah.

“Aku tidak berangkat. Aku tetap berada di sini.”

Pemimpin rombongan semakin bingung.

“Demi Allah, aku melihatmu di Makkah. Aku melihatmu thawaf di sekitar Ka’bah.”

Abdullah tetap mengatakan bahwa dirinya tidak pernah meninggalkan tempat itu.

Karena penasaran, mereka bertanya kepada istrinya. Jawabannya pun sama: Abdullah tidak pergi berhaji.

Malam harinya, pemimpin rombongan bermimpi. Dalam mimpinya terdengar suara yang tidak diketahui dari mana datangnya. Suara itu menyampaikan bahwa Allah telah mengutus malaikat yang menyerupai Abdullah bin al-Mubarak untuk melakukan thawaf, dan pahala haji serta umrahnya dicatat untuk Abdullah.

Sebab, Abdullah telah menginfakkan biaya hajinya kepada seorang perempuan miskin yang sedang berada dalam kesulitan.

Ketika terbangun, pemimpin rombongan segera menemui Abdullah dan menceritakan mimpinya.

Abdullah pun menundukkan kepala dan mengucapkan syukur kepada Allah.

Kisah ini bukanlah alasan bagi seseorang untuk meninggalkan kewajiban haji ketika telah memenuhi syarat dan mampu menunaikannya. Haji tetaplah rukun Islam. Ia merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang memiliki kemampuan.

Tetapi kisah Abdullah bin al-Mubarak mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: jangan sampai kita begitu sibuk mencari pahala di tempat yang jauh, sementara di sekitar kita ada manusia yang sedang menunggu pertolongan.

Makkah memang jauh. Tetapi orang miskin mungkin berada hanya beberapa langkah dari rumah kita.

Ka’bah mungkin berada ribuan kilometer dari tempat tinggal kita. Namun, seorang tetangga yang kelaparan bisa saja berada di balik dinding rumah kita.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya memiliki dimensi hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga melahirkan kepedulian terhadap sesama manusia.

Memang, tidak tepat apabila dikatakan secara matematis bahwa Al-Qur’an terdiri dari sekian persen ayat ibadah ritual dan sekian persen ibadah sosial. Pembagian seperti itu lebih merupakan gambaran untuk menunjukkan betapa luas perhatian Al-Qur’an terhadap kehidupan sosial manusia.

Sebab, shalat yang benar seharusnya melahirkan akhlak. Puasa semestinya menumbuhkan kepedulian. Zakat mengajarkan keadilan sosial. Dan haji seharusnya membawa manusia pulang dengan hati yang lebih tunduk, bersih dan peduli.

Maka, ukuran kemabruran haji bukan semata-mata terlihat dari berapa kali seseorang telah pergi ke Makkah. Kemabruran itu semestinya tampak setelah ia kembali: apakah ia semakin lembut kepada orang miskin, semakin mudah memaafkan, semakin jujur dalam berdagang, semakin santun kepada tetangga, dan semakin ringan tangannya membantu orang yang membutuhkan.

Bukankah sia-sia seseorang berkali-kali thawaf jika hatinya masih berputar-putar di sekitar kepentingan dirinya sendiri?

Bukankah kurang bermakna perjalanan menuju Baitullah apabila setelah pulang ia tidak mampu menemukan “rumah Allah” di hati orang-orang yang membutuhkan kasih sayang?

Karena itu, ketika kita melihat tetangga yang kesulitan, saudara yang tidak memiliki modal untuk memulai usaha, anak yatim yang membutuhkan biaya pendidikan, atau keluarga miskin yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan makan, barangkali di sanalah Allah sedang menguji kepekaan hati kita.

Bukan berarti kita tidak perlu berhaji. Justru sebaliknya, mari berhaji dengan niat yang ikhlas apabila Allah telah memberikan kemampuan. Tetapi jangan pula menjadikan ibadah ritual sebagai ukuran kesalehan satu-satunya.

Sebab, boleh jadi ada seseorang yang belum pernah sampai ke Makkah, tetapi setiap hari ia membantu orang lain sampai ke pintu kehidupan yang lebih baik.

Dan boleh jadi, seseorang yang tidak pernah disebut sebagai “haji” di dunia, justru mendapatkan kemuliaan di sisi Allah karena telah menjadi jalan keselamatan bagi sesamanya.

Kita tidak pernah tahu amal mana yang paling dicintai Allah.

Maka, sebelum kaki kita melangkah menuju Makkah, marilah kita bertanya kepada hati sendiri:

Sudahkah orang-orang yang tinggal di sekitar kita merasakan keberadaan kita?

Jika belum, mungkin ada “perjalanan haji” yang lebih dekat untuk kita tempuh: perjalanan dari ego menuju kepedulian, dari merasa memiliki menuju berbagi, dan dari mencintai ibadah untuk diri sendiri menuju mencintai manusia karena Allah.

Sebab, pada akhirnya, haji yang mabrur bukan sekadar perjalanan tubuh menuju Ka’bah.

Ia adalah perjalanan hati menuju Allah.

Dan terkadang, perjalanan itu justru dimulai dari sebuah tangan yang mengulurkan makanan kepada orang lapar, dari sebagian harta yang diberikan kepada keluarga miskin, atau dari keikhlasan membantu seorang manusia yang sedang hampir kehilangan harapan.

Mungkin kita belum sampai ke Makkah. Tetapi semoga Allah telah membawa hati kita sampai kepada-Nya.

Tidak inginkah kita dipilih oleh menjadi “Abdullh bin Mubarok” berikutnya di era kekinian?**

*) Disarikan dari obrolan saya dengan Ayah Mertua (Imron Supriyadi, S.Ag, M.Hum) di Dapur Pojok Masjid Nurul Yaqin, Talang Keramat, Banyuasin, 10 Agustus 2026

 

Berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button