Dari Limbah Menjadi Berkah: Jerami Padi Kini Jadi Sumber Penghidupan dan Solusi Lingkungan di Bumi Serepat Serasan
Inovasi di Desa Pengabuan: Jerami Menjadi Sumber Rezeki yang Menggairahkan


Di Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tumpukan jerami yang dulu dibakar kini berdenyut nyawa. Lewat tangan terampil para petani, limbah itu melewati serangkaian proses kreatif hingga lahir menjadi produk bernilai jual tinggi.
Perubahan besar ini bermula saat tim Pertamina EP Adera Field melakukan pendekatan sosial dan melihat potensi besar di balik masalah limbah pertanian. Melalui program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA), hadir solusi yang tidak hanya mengatasi sampah, tapi juga membuka jalan kesejahteraan.
Selama puluhan tahun, membakar jerami adalah satu-satunya cara cepat. Namun, asapnya mencemari udara, mengganggu kesehatan, dan melepaskan emisi karbon yang merusak iklim. Bagi Sarbeni, Ketua Kelompok Tani Barokah, ide mengolah jerami sempat terdengar mustahil. “Banyak yang meragukan — jerami yang gatal kalau disentuh, mau dijadikan apa? Tapi kami percaya, dan kami buktikan perlahan,” kenangnya.
Berkat pendampingan intensif, ilmu yang dibagikan, dan semangat belajar, jerami kini menjelma menjadi dua produk unggulan: briket bahan bakar ramah lingkungan dan wadah alami pengganti plastik sekali pakai. Limbah yang dulu dibuang kini menjadi solusi nyata bagi dua masalah sekaligus: sampah dan kemiskinan.
Perubahan Nyata: Dari Sekadar Bertahan Hidup Menuju Kemandirian
Setiap hektare sawah di daerah ini menghasilkan sekitar 4 ton jerami setiap panen — jumlah yang dulu hanya membebani. Sejak hadirnya program PERMATA pada 2025, cerita berubah total. Para petani tidak hanya diajari cara mengolah jerami, tapi juga bagaimana mengelola usaha: mulai dari menjaga kualitas, mengemas produk dengan menarik, mencatat keuangan, hingga merancang strategi pemasaran yang tepat sasaran.
Hasilnya sungguh menggembirakan. Jika dulu pendapatan rata-rata hanya sekitar Rp1,7 juta per bulan — setengah dari upah minimum daerah — kini, bersama 60 petani dari tiga kelompok, penghasilan mereka melonjak menjadi rata-rata Rp3,9 juta per orang setiap bulan.
“Dulu jerami dibakar, asapnya mengganggu dan merusak alam. Sekarang ia berubah menjadi uang dan berkah. Alhamdulillah, yang dianggap sampah justru menjadi sumber rezeki,” ujar Sarbeni dengan mata berbinar.
Manfaatnya juga terasa bagi lingkungan. Diperkirakan, praktik ini mampu menekan emisi karbon hingga 18 ton CO₂ per tahun. Ini menjadi jawaban atas tantangan besar: data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2024 mencatat PALI menghasilkan 38.730 ton sampah per tahun, di mana 8.404 ton di antaranya adalah plastik. Wadah dari jerami hadir sebagai alternatif alami yang aman dan ramah bumi.
Visi Masa Depan: Menjadi Inspirasi untuk Seluruh Nusantara
Program ini tidak dirancang hanya untuk sesaat. Ia adalah fondasi kuat menuju kemandirian jangka panjang. Sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, inisiatif ini menjawab tantangan pengentasan kemiskinan, energi bersih, penanganan perubahan iklim, dan inovasi ekonomi.
Ke depan, Pertamina menargetkan Desa Pengabuan dan daerah binaan lainnya bisa menjadi desa percontohan nasional. Semangat mengubah limbah menjadi nilai ekonomi — mulai dari briket, wadah alami, hingga produk olahan lain — diharapkan dapat menular ke ribuan desa di seluruh Indonesia.
“Kami tidak hanya memberikan bantuan, tapi menanamkan pola pikir dan keterampilan agar masyarakat bisa terus melangkah maju. Kehadiran kami adalah pendorong, agar inovasi ini terus tumbuh dan memberi manfaat hingga anak cucu nanti,” tegas Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement and Development PT Pertamina Hulu Rokan.
Dengan dukungan penelitian, peningkatan mutu, dan perluasan pasar, jerami padi yang dulu hanya menjadi tanda berakhirnya musim panen kini berubah menjadi simbol awal masa depan pertanian Indonesia: hijau, mandiri, dan penuh berkah.
Tentang Wilayah Operasi Pertamina
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional Sumatera Zona 4 mengelola tujuh wilayah kerja yang tersebar di Sumatera Selatan: Prabumulih, Limau, Adera, Pendopo, Ramba, Ogan Komering, dan Raja Tempirai. Wilayah ini mencakup dua kota dan sembilan kabupaten, beroperasi di bawah pengawasan SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan. (Habibi)



