GEMMA Laa Roiba “Menggugat Negara” di Masjid Al Muhajirin
Safari Subuh ke-2 oleh GEMMA Pesantren Laa Roiba
MUARA ENIM, Inilink — Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMA) Pesantren Laa Roiba Muara Enim kembali menggelar Safari Subuh.
Kali ini, kegiatan berlangsung di Masjid Al Muhajirin, BTN Karang Asam, Tanjung Enim, Jumat (20/9/2026).
Safari Subuh yang berlangsung sejak pukul 04.00 hingga 06.30 WIB itu diikuti Pengurus, jamaah Masjid Al Muhajirin, jamaah majelis taklim, serta tim GEMMA dan santri Pondok Pesantren Laa Roiba.
Selain salat Subuh berjamaah, para santri terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari MC, kultum, doa penutup hingga bersih-bersih masjid setelah kegiatan selesai.
Pendiri dan Pimpinan PP Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., dalam arahannya mengingatkan kembali pentingnya menjaga kewajiban salat lima waktu.
Menurut dia, salat berjamaah, termasuk salat Subuh, menjadi bagian penting dalam membangun kedisiplinan dan kesungguhan seorang Muslim dalam beribadah kepada Allah SWT.
Ustadz Taufik menjelaskan, waktu Subuh dipilih sebagai bagian dari Safari GEMMA karena memiliki tantangan tersendiri. Jamaah harus melawan rasa kantuk, udara dingin, hujan, kelelahan setelah bekerja pada shif malam, atau pulang larut malam.
“Subuh memiliki tantangan. Karena itu, ketika seseorang mampu menjaga salat Subuh berjamaah, di sana ada proses pembiasaan untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah,” ujar Ustadz Taufik.
Bagi para santri, tantangan tersebut juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Sebelum berangkat Safari Subuh, santri harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan diri.
Jika lokasi yang dituju cukup jauh, seperti di wilayah Lahat, tim GEMMA bahkan harus berangkat sekitar pukul 03.00 WIB. Artinya, santri dan ustadz pendamping sudah bersiap sejak sekitar pukul 02.30 WIB.
Menurut Ustadz Taufik, pembiasaan tersebut diharapkan menjadi karakter yang melekat pada diri santri. Disiplin mengikuti salat Subuh berjamaah diharapkan tidak berhenti ketika mereka masih mondok, tetapi terus dibawa setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren dan kembali ke tengah masyarakat.
Masjid sebagai Laboratorium Dakwah
Ustadz Taufik juga menyebut masjid sebagai laboratorium dakwah bagi santri. Melalui Safari Subuh, para santri mendapatkan kesempatan mempraktikkan ilmu dan keterampilan yang dipelajari di pesantren secara langsung di tengah masyarakat.
Ia mengibaratkan pendidikan santri dengan pendidikan kejuruan atau kedokteran. Siswa sekolah kejuruan menjalani praktik di tempat kerja, sementara mahasiswa kedokteran menjalani praktik di rumah sakit.
Bagi santri, kata dia, masjid menjadi salah satu ruang praktik untuk mengembangkan kemampuan dakwah dan pelayanan kepada masyarakat.
“Santri tidak hanya belajar di pesantren. Mereka juga perlu belajar berinteraksi dengan jamaah, mengelola kegiatan masjid, tampil di depan masyarakat, serta memahami bagaimana kegiatan keagamaan dilaksanakan,” katanya.
Melalui proses tersebut, santri diharapkan terbiasa tampil dan berkomunikasi dengan masyarakat, termasuk ketika harus terlibat dalam kegiatan rutin mingguan, bulanan maupun peringatan hari besar Islam.
“Menggugat” Peran Negara
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Taufik juga menyinggung keberadaan santri yatim dan dhuafa yang belajar di PP Laa Roiba.
Menurut dia, pesantren menerima santri yatim dan dhuafa melalui proses survei. Mereka datang dari sejumlah daerah, antara lain Palembang, Kikim, Ujan Mas, PALI dan wilayah lainnya. Para santri tersebut, kata Ustadz Taufik, tidak dipungut biaya pendidikan.
Dari kondisi tersebut, Ustadz Taufikkemudian mempertanyakan sejauh mana kehadiran negara dalam kehidupan anak-anak yatim dan dhuafa.
Ia mengapresiasi amanat konstitusi yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Ketentuan tersebut terdapat dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945.
Namun, Ustadz Taufik menyampaikannya dalam bentuk pertanyaan retoris.
“Terima kasih kepada negara yang sudah membuat undang-undang. Di dalam konstitusi disebutkan fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Tetapi, itu negara yang mana?” kata Ustadz Taufik, sebagaimana disampaikan dalam Safari Subuh tersebut.
Ia kemudian mempertanyakan apakah negara pernah datang secara langsung melihat kondisi para santri yatim dan dhuafa di pesantren serta memberikan dukungan untuk kebutuhan mereka.
Menurut Ustadz Taufik, hingga saat ini dukungan langsung tersebut belum dirasakan pesantren.
Meski demikian, ia menyampaikan rasa syukur karena masih banyak masyarakat yang bersedia menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu kebutuhan santri yatim dan dhuafa.
“Alhamdulillah, meskipun negara belum hadir secara riil dalam bentuk bantuan materi untuk kebutuhan santri, masih banyak orang baik yang bersedia menyisihkan hartanya untuk anak-anak yatim dan dhuafa di pesantren kami,” ujarnya.
Meramaikan Masjid yang Sepi
Koordinator GEMMA PP Laa Roiba, Ustadz Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum., mengatakan Safari Subuh merupakan gagasan KH Taufik Hidayat yang kemudian dijalankan melalui Gerakan Memakmurkan Masjid.
Menurut Ustadz Imron, GEMMA ingin menghadirkan santri ke masjid-masjid, terutama pada waktu Subuh yang di sejumlah tempat masih relatif sepi jamaah.
“Intinya, melalui Safari Subuh ini kami ingin meramaikan yang sepi. Waktu Subuh di banyak masjid dan mushala memang menjadi salah satu waktu yang jamaahnya relatif sedikit. Karena itu, kami ingin ikut meramaikannya,” ujarnya.
Ia mengatakan gerakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat memakmurkan masjid.
Santri tidak hanya datang untuk melaksanakan salat berjamaah, tetapi juga belajar memberikan pelayanan kepada jamaah, menjaga kebersihan masjid, serta membangun hubungan sosial dengan masyarakat.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, para santri bersama tim GEMMA turut membersihkan area masjid, termasuk merapikan bekas makanan dan kemasan yang digunakan jamaah.
BACA BERITA TERKAIT : Safari Subuh GEMMA Laa Roiba di Masjid At-Takwa Muara Enim
Safari Subuh GEMMA PP Laa Roiba selanjutnya akan terus dilaksanakan di sejumlah masjid sebagai bagian dari program “Dari Pesantren ke Masjid, dari Masjid ke Masyarakat.”
Teks/Foto : Tim GEMMA PP Laa Roiba