Maulid Nabi di PP Laa Roiba, Santri Diajak Teladani Empat Sifat Rasulullah
Kegiatan diikuti seluruh santri, para pengasuh pondok
MUARA ENIM, Iniklik.com — Pondok Pesantren (PP) Laa Roiba Muara Enim memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh khidmat di Masjid Julaibib Laa Roiba, Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB itu diikuti seluruh santri, para pengasuh pondok, ustadz dan ustadzah, serta para guru dari berbagai jenjang pendidikan di lingkungan PP Laa Roiba.
Peserta berasal dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Laa Roiba.

Peringatan Maulid Nabi diawali dengan penampilan hadroh para santri PP Laa Roiba. Lantunan shalawat yang menggema di dalam masjid menciptakan suasana religius sekaligus menjadi ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Al-Barzanji yang berisi kisah perjalanan hidup serta syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Pembacaan dipimpin oleh Kepala Madrasah Diniyah PP Laa Roiba, Ustadz Rio Arjaya Al-Hafidz, M.Pd.I.
Setelah rangkaian shalawat dan pembacaan Al-Barzanji, kegiatan dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan Ustadz Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum, Koordinator Program Sekolah Khatib dan Imam PP Laa Roiba Muara Enim.
Dalam ceramahnya, Ustadz Imron mengajak seluruh peserta menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk membangkitkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Menurut dia, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, shalawat, ataupun peringatan seremonial semata. Cinta kepada Rasulullah harus diwujudkan melalui upaya meneladani akhlak dan sifat-sifat beliau dalam kehidupan sehari-hari.

“Peringatan Maulid Nabi ini harus menjadi momentum untuk membangkitkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Tetapi bukti cinta itu tidak cukup hanya dengan lisan. Ada nilai-nilai yang harus kita teladani dari Rasulullah,” ujar Ustadz Imron.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Alquran Surah Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Ayat tersebut, kata Ustadz Imron, menjadi dasar bahwa kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan dengan menjadikan beliau sebagai teladan.
Belajar Kejujuran dari Sifat Siddiq
Dalam kesempatan itu, Ustadz Imron menjelaskan empat sifat utama Rasulullah SAW yang harus menjadi pedoman bagi santri, guru, ustadz, ustadzah, dan para pengasuh pesantren.
Sifat pertama adalah Siddiq, yakni benar dan jujur.
“Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita harus berkata benar. Kalau berkata jangan berbohong,” katanya.
Ia mengingatkan sebuah ungkapan yang dikenal masyarakat, “Kalau nitip duit berkurang, kalau nitip omongan bertambah.”
Ungkapan itu, menurutnya, menjadi sindiran terhadap kebiasaan manusia yang terkadang menambah-nambah cerita ketika menyampaikan sesuatu.
Karena itu, seorang santri tidak boleh berbohong kepada ustadz dan gurunya. Ketika melakukan kesalahan dan diminta memberikan penjelasan, seorang santri harus berani mengakui kesalahannya.
“Jangan mengada-ada, jangan mengarang cerita hanya untuk menutupi kesalahan. Berkatalah jujur kepada orang tua, kepada guru, dan kepada siapa pun,” ujar dia.
Ustadz Imron menegaskan, kejujuran bukan hanya kewajiban santri, tetapi juga menjadi tanggung jawab para pendidik untuk menanamkannya.
Guru dan pengasuh, kata dia, harus mengajarkan nilai kejujuran bukan hanya melalui nasihat, melainkan juga melalui perilaku sehari-hari.
“Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang didengarnya, tetapi juga dari apa yang dilihatnya. Karena itu, guru harus menjadi contoh dalam berkata benar, menepati janji, dan berani mengakui kesalahan,” katanya.
Menurut dia, pendidikan kejujuran akan lebih kuat apabila tumbuh dalam budaya pesantren. Santri harus merasa bahwa berkata jujur, meskipun pahit, lebih mulia daripada berbohong untuk menyelamatkan diri.
Amanah dalam Menjalankan Tugas
Sifat kedua yang dijelaskan adalah Amanah, yakni dapat dipercaya.
“Apa arti amanah?” tanya Ustadz Imron kepada para santri.
“Dapat dipercaya!” jawab para santri serentak.
“Ya, benar,” kata Ustadz Imron.
Ia menjelaskan, menjadi pengikut Rasulullah berarti menjadi orang yang dapat dipercaya ketika menerima sebuah tanggung jawab.
Santri, misalnya, telah diamanahkan oleh orang tua untuk belajar di pesantren. Karena itu, amanah tersebut harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
“Santri diamanahkan oleh orang tua untuk belajar, ya belajar. Jangan banyak main,” katanya.
Begitu pula dengan para pengurus Organisasi Santri Laa Roiba (OSLA). Ketika telah menerima Surat Keputusan (SK) dan diberi tugas menjalankan organisasi, maka amanah tersebut harus dilaksanakan secara serius dan bertanggung jawab.
Menurut Ustadz Imron, amanah juga berlaku bagi para ustadz, ustadzah, dan pengasuh pesantren.
“Para pengasuh diberi amanah untuk mendidik santri, maka harus serius mendidik. Bukan hanya memerintah santri, tetapi juga harus menjadi teladan agar santri disiplin, peduli, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Itulah amanah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan akan kehilangan maknanya apabila seorang pendidik hanya pandai memberikan instruksi, tetapi tidak memberikan contoh.
Santri Harus Menjadi Penyampai Kebaikan
Sifat ketiga Rasulullah SAW adalah Tabligh, yakni menyampaikan.
Menurut Ustadz Imron, santri, ustadz, ustadzah, dan pengasuh pesantren pada hakikatnya memiliki tugas sebagai penyampai kebaikan.
Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril, kemudian menyampaikannya kepada umat manusia.
Kedatangan Nabi Muhammad SAW, kata dia, bukan hanya membawa kebaikan bagi satu kelompok, melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Al-Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
“Bukan hanya rahmatan lil muslimin, tetapi rahmatan lil ‘alamin,” ujar Ustadz Imron.
Ia kemudian secara khusus mengingatkan para santri agar bersungguh-sungguh selama menimba ilmu di pesantren.
Menurut dia, bagaimana mungkin seorang santri dapat menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat apabila selama berada di pondok justru malas belajar.
“Bagaimana nanti mau menyampaikan pesan kebaikan yang berdasarkan Alquran kalau di pondok malas belajar? Diajak latihan muhadharah ogah-ogahan, diberi materi ceramah malas, belajar mengaji malas, membaca kitab juga malas,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh di pesantren harus dapat diamalkan ketika para santri kembali ke tengah masyarakat.
“Kalau nanti pulang ke desa disuruh ceramah tidak bisa, disuruh mengaji tidak bisa, disuruh adzan tidak bisa, disuruh memimpin tahlil tidak bisa, memimpin yasinan tidak bisa, diminta memimpin doa dan menjadi MC juga tidak bisa, itu namanya memalukan nama baik pesantren, keluarga, bahkan dirinya sendiri,” ujar Ustadz Imron.
Karena itu, seluruh santri harus memanfaatkan masa pendidikan di pesantren untuk sungguh-sungguh belajar dan berlatih.
“Di pesantren ini kita semua sedang ditempa agar menjadi penyampai kebaikan, sebagaimana salah satu sifat Nabi Muhammad SAW, yaitu tabligh,” katanya.
Fathanah, Cerdas dan Mencerdaskan
Sifat keempat adalah Fathanah, yakni cerdas.
Ustadz Imron menekankan bahwa cerdas tidak selalu sama dengan sekadar pintar.
Menurutnya, seseorang dapat disebut pintar karena memiliki banyak pengetahuan dan menguasai berbagai bidang ilmu. Namun kecerdasan yang dicontohkan Rasulullah memiliki makna yang lebih luas.
Dalam pengertian pendidikan Islam, kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menguasai ilmu, tetapi juga kemampuan menggunakan ilmu secara benar, bijaksana, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
“Pintar itu bisa memiliki banyak pengetahuan. Dia pintar mengaji, pintar matematika, pintar dalam berbagai bidang. Tetapi kalau kepintaran itu hanya untuk dirinya sendiri dan tidak sesuai dengan perilakunya, maka ada yang belum sempurna,” ujarnya.
Ustadz Imron memberikan sejumlah contoh.
Seorang santri mungkin rajin mengaji dan rajin shalat, tetapi tidak menghormati guru dan kurang beradab kepada orang tua. Ada pula yang merasa sudah pintar sehingga enggan mengikuti latihan ceramah, Safari Subuh, kegiatan MTQ, atau kegiatan pendidikan lainnya.
“Ilmunya banyak, tetapi ilmunya belum membangun adab,” katanya.
Berbeda dengan itu, kecerdasan harus melahirkan keselarasan antara ilmu yang ada di dalam pikiran dengan perilaku dalam kehidupan.
Orang yang cerdas, kata dia, bukan hanya mampu memahami ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membagikan ilmu dan membantu orang lain menjadi lebih baik.
“Kalau cerdas, ada kesesuaian antara isi kepala, dalam hal ini ilmu pengetahuan, dengan perilaku. Kemudian dia juga mau mencerdaskan orang lain, mau mengajar adik-adiknya tanpa pamrih,” ujar dia.
Pesan tersebut juga ditujukan kepada para ustadz dan ustadzah.
Seorang pendidik, kata Ustadz Imron, harus mengajar dengan kesungguhan hati, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban mengajar.
Ia menyampaikan pesan Mudir PP Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, bahwa tugas pendidik bukan hanya melakukan transfer of knowledge atau memindahkan pengetahuan kepada santri.
“Yang jauh lebih penting adalah character building, membangun karakter santri,” katanya.
Karakter, menurutnya, tidak dapat dibangun hanya melalui kata-kata.
“Untuk membangun karakter santri bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perilaku. Sebab Nabi Muhammad SAW menjadi teladan bukan hanya karena beliau menyampaikan pesan wahyu, tetapi karena beliau sendiri menjalankan apa yang beliau ajarkan,” ujar Ustadz Imron.
Rasulullah Menjadi Teladan
Ustadz Imron juga menyinggung keberhasilan dakwah Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat Madinah hingga terjadinya peristiwa Fathu Makkah.
Keberhasilan tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengutip pesan KH Taufik Hidayat mengenai kehidupan Rasulullah SAW, yakni bahwa Rasulullah hidup “bersama dan seperti” umatnya.
Maksudnya, Rasulullah tidak hanya memerintahkan sesuatu kepada umat, tetapi beliau sendiri menjadi orang pertama yang memberikan contoh.
Ketika mengajarkan kesederhanaan, Rasulullah SAW menjalani kehidupan yang sederhana.
Dalam sejumlah riwayat sahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW hidup dengan penuh kesahajaan. Sayyidah Aisyah RA pernah menceritakan keadaan rumah tangga Nabi yang pada masa-masa tertentu tidak memasak makanan dalam waktu lama, sementara Rasulullah juga tidur di atas alas yang sederhana.
Ustadz Imron menjelaskan bahwa kesederhanaan Rasulullah bukan berarti kelemahan, melainkan bukti bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kemewahan.
“Rasulullah mengajarkan hidup sederhana, dan beliau sendiri lebih dahulu memberikan contoh. Beliau tidak hanya berkata, tetapi menjalankan,” katanya.
Menurut Ustadz Imron, ketika perkataan, hati, dan perbuatan berjalan seiring, kemudian ilmu dibagikan kepada orang lain, di situlah seseorang mulai mewujudkan makna Fathanah.
“Cerdas bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi cerdas dan mencerdaskan umat,” ujarnya.
Ia menegaskan, keempat sifat Rasulullah SAW — Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah — harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Baik dalam dunia pendidikan, keluarga, kehidupan ekonomi, maupun kehidupan sosial dan budaya, nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk diamalkan.
“Santri, ustadz, ustadzah, pengasuh, dan kita semua memiliki kewajiban untuk berusaha meneladani empat sifat Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di PP Laa Roiba kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan yang digelar Organisasi Santri Laa Roiba (OSLA) hingga siang hari.
Peringatan tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar Pondok Pesantren Laa Roiba untuk tidak sekadar mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan para santri dan seluruh warga pesantren.**
Teks/Foto : Tim Media PP Laa Roiba