PALI

Tulus Foundation Ubah Lima Biji Karet Menjadi Tempe

Kreatif  Pemuda Desa Muara Ikan Siasati Kedelai Mahal Dengan Biji Karet

PALI, Iniklik.com – Limbah biji dari pohon karet ternyata dapat diolah menjadi makanan kuliner keripik tempe, hal ini telah dilakukan atas kreatifitas Kelompok Pemuda Desa Muara Ikan Kecamatan Penukal Utara Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yang dikenal dengan nama Tulus Foundation

Menurut salah seorang pengrajin limbah biji karet atau pembuat tempe biji karet telah berlangsung beberapa bulan terakhir atas kreatifitas Pemuda Desa setempat, setelah melihat limbah biji karet yang dibuang begitu saja serta untuk mengisi waktu kosong setiap hariinya

Apa lagi selama ini masyarakat mengenal kedelai sebagai bahan dasar pembuat tempe, maka hal berbeda yang dilakukan Kelompok Pemuda Desa Muara Ikan yang dikenal dengan nama Tulus Foundation mereka membuat dari bahan dasar biji karet. Ya, biji karet !

Biji karet yang terkenal bila salah cara penggunaan dan pengelolaan dapat menyebabkan kematian, karena mengandung sianida, ditangan Tulus Foundation menjadi bermanfaat dan bernilai jual.

Mereka pun menuturkan muasal inovasi yang dilakukannya. Ketika bercengkrama tentang harga karet yang selalu anjlok dengan guru yang ada disekolah di Desa Muara Ikan, berdasarkan informasi dari guru tersebut sebenarnya biji karet jika diolah dengan benar akan dapat mendatangkan nilai jual dan menghasilakan uang.

Selama ini biji karet didesa hanya dibiarkan tanpa ada yang mengolah menjadi produk olahan pangan, tulus foundation membuat hipotesis (dugaan) bahwa bakteri Rhizopus sp untuk fermentasi untuk membuat tempe juga bisa untuk memfermentasikan biji karet.

Pembina Tulus Foundation Adu Upik, SE. mengatakan “Kami mengumpulkan biji karet dari kebun-kebun masyarakat didesa dan mendapatkan 10 kg dalam sehari secara cuma cuma. Lalu biji karet dibuang kulit luarnya, trus tapi di bersihkan lapisan kulitnya, kemudian dicuci dengan air bersih dan direndam di air selama 48 jam dengan air kapur dan diganti setiap 4 jam,” ujarnya.

Proses berikutnya kemudian direbus selama 1,5 jam sehingga menyisakan daging biji karet dan dipotong berbentuk dadu.

“Tinggal dikeringkan dengan cara diangin-angin dan jangan kena sinar matahari. Proses selanjutnya diberi ragi tempe yang bisa dibeli di pasar,” tambannya.

Proses terakhir dibungkus dengan daun pisang atau plastik. Namun, bungkus plastik harus dilubangi kecil kecil untuk memberikan udara agar proses peragian berlangsung sempurna.

Setelah itu diolah menjadi tempe kriuk tanpa minyak dengan berbagai rasa. Masih kata Adu Upik, SE. meyakini, biji karet bisa menjadi alternatif pengganti kedelai untuk membuat tempe apabila harga kedelai sedang naik tinggi.

“Kami meneliti selama enam bulan, dari Januari hinga Juni. Hasil penelitian kami membutuhkan hasil, sehingga kami  bawa ke lomba Inovasi daerah tahun 2022  kategori umum kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir dan Alhamdulillah mendapatkan juara ketiga.” Pungkaanya. (Red)

Berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button